SECURITY IN WIRELESS BROADBAND ROUTER

Anggota Kelompok 3:

1. Vito Alvarussy ( 7109030002) PIC

2. Churnia Sari    ( 7109030008) Member

3. Darmaji           ( 7109030015) Member

1. Tujuan

- Mahasiswa dapat mengaplikasikan security sistem pada wireless sehingga dapat terhindar dari hacker wireless.

2.Hasil Praktikum

-   Sambungkan Wireless broadband router pada switch dan ke PC.

-  koneksikan PC pada broadband router lalu klik conections information.

-   Reset Wireless broadband router untuk mendapatkan ip adress dari wireless broadband router.

 

I.Hasil percobaan pertama ( membuat SSID baru tanpa password)

- Ketik ip default route pada URL addres.

- Buat SSID baru pada wireless – basic setup lalu setelah itu klik enable.

- koneksikan client pada wireless linksys3 ( ping ).

II. Hasil percobaan kedua ( membuat security in wireless dengan wpa 2 personal.

- klik pada wireless security lalu akan keluar tampilan seperti dibawah ini.

- lalu pilih enable security.

-tampilan pada klien ketika terhubung dengan linksys3.

III. Hasil percobaan ketiga ( hidden wireless dan block client)

- pada tampilan wireless basic setup. pilih disable.

 

- pada komputer client maka akan tampil gambar seperti berikut.

 

- sedangkan untuk mengblock client yang tidak diinginkan mka klik wireless -> security

- lalu akan tampil tabel  mac address yang akan diblock.

- tampilan ping pada komputer client yang diblock..

 

 

 

PRAKTIKUM JARKOM 3 ( Netmasking & Subnetting)

Nama Anggota Kelompok:

  1.  Vito Alvarussy       7109030002 ( PIC )
  2.  Churnia Sari          7109030008 ( Member )
  3.  Darmaji                 7109030015 ( Member )
  1.  Teori Dasar Netmasking dan Subnetting
  • Netmasking

Sebuah ”network mask” membantu kita mengenal porsi mana dari alamat IP yang menunjukkan jaringan/network dan porsi mana yang menunjukkan node/host. Jaringan class A, B, dan C mempunyai “mask default”, juga dikenal sebagai ”mask natural”, seperti berikut:

Class A: 255.0.0.0
Class B: 255.255.0.0
Class C: 255.255.255.0

Sebuah alamat IP pada jaringan Class A yang belum di-”subnet” akan memiliki sebuah pasangan alamat/mask seperti contoh : 8.20.15.1 255.0.0.0. Untuk melihat bagaimana “mask” membantu kita mengidentifikasi bagian/porsi jaringan dan node/host dari sebuah alamat, konversikan alamat dan “mask” ke bilangan biner/binary.
8.20.15.1 = 00001000.00010100.00001111.00000001
255.0.0.0 = 11111111.00000000.00000000.00000000

Jika anda sudah mendapatkan alamat dan mask dalam bentuk binary, maka identifikasi jaringan/network dan host ID akan lebih mudah.
Bit-bit alamat untuk MASK yang di set 1 menyatakan Network ID, dan yang di set 0 menyatakan Node ID.

8.20.15.1 = 00001000.00010100.00001111.00000001
255.0.0.0 = 11111111.00000000.00000000.00000000
———————————–
net id host id
netid = 00001000 = 8 hostid = 00010100.00001111.00000001 = 20.15.1

  •  Subnetting

Anda bisa membuat multiple logical networks dalam suatu jaringan Class A, B, atau C. Jika anda tidak melakukan subnet, anda hanya bisa menggunakan satu jaringan/network Class A, B, atau C network, hal ini sangatlah tidak lazim.
Tiap-tiap data link di jaringan harus memiliki Network ID yang unik, dengan node/host pada link tersebut yang menjadi anggota dari Network tersebut (jaringan yang sama). Jika anda membagi network utama (Class A, B, atau C) menjadi subnetwork yang lebih kecil, maka anda bisa membuat interconnecting subnetworks (hubungan antar subnetwork dengan IP routing protocol). Maka masing-masing data link pada jaringan ini memiliki network/subnetwork ID yang unik.
Untuk melakukan subnetting alias men-subnet suatu jaringan, perpanjang natural/default mask dengan bit-bit yang bernilai 1 pada porsi host ID untuk membuat sebuah subnetwork ID. Contoh sebuah Class C network: 204.17.5.0 dengan natural/default mask: 255.255.255.0, Anda bisa membuat subnet dengan cara sebagai berikut :

204.17.5.0 – 11001100.00010001.00000101.00000000
255.255.255.224 – 11111111.11111111.11111111.11100000
————————–|sub|—-

Dengan memperpanjang MASK menjadi 255.255.255.224, and telah menambahkan 3 bit bernilai 1 (ditandai dengan “sub”) pada porsi host yang digunakan untuk membentuk subnet. Dengan 3 bit tersebut, memungkinkan anda membuat 8 subnet. Dengan sisa 5 bit bernilai 0 untuk host ID, masing-masing subnet memiliki 32 alamat host, dan hanya 30 saja yang bisa diterapkan/diconfigurasi pada perangkat/device, karena host ID dengan seluruh bit nya bernilai 1 atau seluruhnya bernilai 0 tidak bisa diterapkan pada perangkat/device. (Ini sangat penting sekali untuk diingat). Berikut subnet-subnet yang telah kita buat:

204.17.5.0 255.255.255.224 host address range 1 to 30
204.17.5.32 255.255.255.224 host address range 33 to 62
204.17.5.64 255.255.255.224 host address range 65 to 94
204.17.5.96 255.255.255.224 host address range 97 to 126
204.17.5.128 255.255.255.224 host address range 129 to 158
204.17.5.160 255.255.255.224 host address range 161 to 190
204.17.5.192 255.255.255.224 host address range 193 to 222
204.17.5.224 255.255.255.224 host address range 225 to 254

Note: Ada 2 cara untuk penulisan MASK. Pertama, seperti diatas, anda menggunakan 3 bit bernilai 1 lebih daripada “natural/default” MASK Class C, anda bisa menyatakan alamat-alamat ini memiliki 3-bit subnet MASK. Kedua, MASK : 255.255.255.224 dapat ditulis seperti: /27 karena terdapat 27 bit (bernilai 1) yang telah di set pada MASK. Cara kedua tersebut, dikenal dengan nama Classless Interdomain Routing (CIDR)-pembahasan berikutnya . Dengan CIDR, satu network dapat ditulis; dengan notasi prefix/length. Contoh, 204.17.5.32/27 sama dengan network 204.17.5.32 255.255.255.224.1.2.

    2. Data Percobaan

1.Percobaan 1

  • PC 1 ke PC 2,3 atau sebaliknya dengan menggunakan netmask 24

2. percobaan 2

  • PC 1 ke PC 2,3 atau sebaliknya dengan menggunakan Netmask 28

3. Percobaan 3

  • PC1 ke PC 2,3 atau sebaliknya dengan Netmask PC 1 = 28 ,PC 2 = 24, PC 3 = 27

Data percobaan selengkapnya Klik Link dibwah ini:

Data Praktikum